Pelestarian Topeng Malangan ditengah Era Globalisasi.

Mungkin apa yang menjadi fenomena saat ini adalah suatu kebenaran. Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari daripada pentas Topeng Malang. Menurut Maestro Topeng Malang, Mbah Karimun beberapa waktu lalu, sekarang ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Malang. "Terakhir kami pentas besar saat HUT Malang beberapa waktu lalu," tutur istri Mbah Karimun, Siti Maryam. Yang lebih banyak dilakukan Mbah Karimun untuk melestarikan budaya Topeng Malangan, menurut Mbah Maryam, saat ini cara yang tepat untuk melestarikan Topeng Malangan adalah dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan dengan mendririkan Padepokan Sri Margo Utomo. Melalui dua murid Mbah Item yakni Mbah Rasimun dan Pak Sutrisno. Sehingga, padepokan Topeng Malangan semakin berkembang. Tidak sedikit orang yang menimba seni adiluhung di sana, tidak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. Salah satu murid yang pernah berguru di tempat itu adalah Didik Nini Thowok, seniman tari asal Yogyakarta. Topeng Malang atau Topeng Malangan pada hakikatnya adalah wayang orang yang mengenakan topeng. Cerita yang disajikan pun seputar masalah kepahlawanan atau cerita panji. Cerita Panji menampilkan setting latar belakang Kerajaan Jenggala dengan tokoh Prabu Lembu Amiluhur dan Raden Panji Asmara Bangun, Kerajaan Daha dengan tokoh Lembu Amisesa, Gunung Sari, dan Dewi Sekartaji, serta Kerajaan Kediri dengan tokoh Pambelah, Pamecut, Patih Kudamawarsa, Lembu Pati, dengan tokoh antagonis Klana Sabrang, Bapang, dan Wadyabala. Karena terbatasnya pelakon, sementara tokoh yang diperankan sangat banyak, karena itulah dipilih media topeng. Oleh karena itu seorang penari dituntut dapat membawakan lebih dari satu atau dua karakter. Dalam pementasan, cerita Panji memakai 20-30 topeng yang dipentaskan antara 8-10 orang.
Seiring dengan hal itu, budaya komunitas masyarakat Malang-pun kian memudar. Era tahun 1960-1990-an, komunitas seni pernah tumbuh subur seperti Himpunan Seni Budaya Islam Malang (1960-an), Kelompok Studi Teater (Kloster) Malang (tahun 1960-an), Rumah Budaya (2000), Lembaga Budaya Desa (2001), Forum Cerpen Malang (2000), Forum Wolulikuran (2004), dan komunitas-komunitas seni lainnya. Kini semuanya tinggal nama. Mungkin mulai berkurangnya rasa memiliki Topeng Malangan sebagai identitas adalah salah satu bentuk kehilangan Malang yang tidak langsung terasa.Yang lebih terlihat nyata adalah hilangnya fasilitas publik yang bisa menjadi wadah berkumpul dan mengapresiasikan segala potensi seperti di Taman Indrokilo, GOR Pulosari, dan sarana publik lain. Dewan Kesenian Malang juga semakin sepi. Satu per satu semuanya disulap menjadi perumahan atau pertokoan guna mendukung urbanisasi. Seiring itu, hilang pula sebutan Garden City untuk Malang karena taman-taman kota mulai hilang berganti gedung dan pertokoan. Kondisi ini sangat kontras dan memprihatinkan dengan pencapaian Kota Malang yang cukup luar biasa secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kota Malang tahun 2007 diklaim mencapai 6,7 persen, jauh mengungguli target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen, jauh meninggalkan pertumbuhan provinsi Jawa Timur yang hanya 6,3 persen, dan capaian pertumbuhan nasional yang tahun ini hanya bisa mencapai 6,4 persen. Dan disaat dibuatnya pesta rakyat Malang Kembali, orang mulai bertanya. Malang Kembali seperti apakah yang coba disuguhkan kepada khalayak ramai. Apakah wayang-wayang kulit yang ternyata justru didatangkan dari Solo dan Wonogiri (seperti Pak Sogi dan Pak Sabar yang membawa wayang buatannya hingga sebanyak lima kodi di sudut Jalan Ijen). Boleh jadi Malang Kembali tanpa sadar merupakan salah satu bentuk perwujudan ekspresi kekhawatiran dan kerinduan warga Malang akan seni dan tradisi. Seni dan tradisi yang mulai luntur seiring perkembangan zaman. Warga Malang mulai risau. Jika semakin lama identitasnya tergerus zaman, semakin lama yang ditakutkan adalah generasi yang selanjutnya tidak mengetahui budayanya sendiri.
Selain dengan cara mewariskan karakter, tarian Topeng pada masyarakat sekitar serta membuat sanggar seni. Kabupaten Malang juga telah menyisipkan kebudayaan Malang ini sebagai salah satu kurikulum sekolah, terutama tingkat Menengah Pertama dan Menengah Umum. Bahkan di beberapa universitas seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Merdeka juga memiliki jurusan seni tari dan salah satu kurikulumnya membahas tentang Tari Topeng Malangan. Dan Topeng Malangan sendiri juga tetap menjadi salah satu tujuan warga asing untuk menambah koleksi topeng mereka, seperti halnya Turis dari Belanda yang beberapa waktu yang lalu bertandah ke rumah Mbah Karimun untuk membeli salah satu koleksi topeng beliau.
Dunia maya yang semakin membanjir sebenarnya merupakan media yang sangat menguntungkan jika bisa digunakan secara maksimala. Karena media ini menjadi salah satu media pengenalan dan pemasaran Topeng Malangan. Dengan memasuki situs-situs tertentu yang tantunya berhubungan dengan kesenian khas Malang ini, maka kita dapat mengetahui bagaimanakah budaya Topeng Malangan baik masyarakat nasional bahkan internasional. Dan dari sanalah beberapa orang mengharapkan kebudayaan Topeng Malangan dapat tetap terjaga kelestariannya demi anak cucu kita kelak.
Sumber:http://aniesaround.blogspot.com/2009/05/pelestarian-kebudayaan-topeng-malangan.html