Saturday, March 22, 2014



Pelestarian Topeng Malangan ditengah Era Globalisasi.



Mungkin apa yang menjadi fenomena saat ini adalah suatu kebenaran. Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan. Saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni selain tari daripada pentas Topeng Malang. Menurut Maestro Topeng Malang, Mbah Karimun beberapa waktu lalu, sekarang ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Malang. "Terakhir kami pentas besar saat HUT Malang beberapa waktu lalu," tutur istri Mbah Karimun, Siti Maryam. Yang lebih banyak dilakukan Mbah Karimun untuk melestarikan budaya Topeng Malangan, menurut Mbah Maryam, saat ini cara yang tepat untuk melestarikan Topeng Malangan adalah dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan dengan mendririkan Padepokan Sri Margo Utomo. Melalui dua murid Mbah Item yakni Mbah Rasimun dan Pak Sutrisno. Sehingga, padepokan Topeng Malangan semakin berkembang. Tidak sedikit orang yang menimba seni adiluhung di sana, tidak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. Salah satu murid yang pernah berguru di tempat itu adalah Didik Nini Thowok, seniman tari asal Yogyakarta. Topeng Malang atau Topeng Malangan pada hakikatnya adalah wayang orang yang mengenakan topeng. Cerita yang disajikan pun seputar masalah kepahlawanan atau cerita panji. Cerita Panji menampilkan setting latar belakang Kerajaan Jenggala dengan tokoh Prabu Lembu Amiluhur dan Raden Panji Asmara Bangun, Kerajaan Daha dengan tokoh Lembu Amisesa, Gunung Sari, dan Dewi Sekartaji, serta Kerajaan Kediri dengan tokoh Pambelah, Pamecut, Patih Kudamawarsa, Lembu Pati, dengan tokoh antagonis Klana Sabrang, Bapang, dan Wadyabala. Karena terbatasnya pelakon, sementara tokoh yang diperankan sangat banyak, karena itulah dipilih media topeng. Oleh karena itu seorang penari dituntut dapat membawakan lebih dari satu atau dua karakter. Dalam pementasan, cerita Panji memakai 20-30 topeng yang dipentaskan antara 8-10 orang.


Seiring dengan hal itu, budaya komunitas masyarakat Malang-pun kian memudar. Era tahun 1960-1990-an, komunitas seni pernah tumbuh subur seperti Himpunan Seni Budaya Islam Malang (1960-an), Kelompok Studi Teater (Kloster) Malang (tahun 1960-an), Rumah Budaya (2000), Lembaga Budaya Desa (2001), Forum Cerpen Malang (2000), Forum Wolulikuran (2004), dan komunitas-komunitas seni lainnya. Kini semuanya tinggal nama. Mungkin mulai berkurangnya rasa memiliki Topeng Malangan sebagai identitas adalah salah satu bentuk kehilangan Malang yang tidak langsung terasa.Yang lebih terlihat nyata adalah hilangnya fasilitas publik yang bisa menjadi wadah berkumpul dan mengapresiasikan segala potensi seperti di Taman Indrokilo, GOR Pulosari, dan sarana publik lain. Dewan Kesenian Malang juga semakin sepi. Satu per satu semuanya disulap menjadi perumahan atau pertokoan guna mendukung urbanisasi. Seiring itu, hilang pula sebutan Garden City untuk Malang karena taman-taman kota mulai hilang berganti gedung dan pertokoan. Kondisi ini sangat kontras dan memprihatinkan dengan pencapaian Kota Malang yang cukup luar biasa secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kota Malang tahun 2007 diklaim mencapai 6,7 persen, jauh mengungguli target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen, jauh meninggalkan pertumbuhan provinsi Jawa Timur yang hanya 6,3 persen, dan capaian pertumbuhan nasional yang tahun ini hanya bisa mencapai 6,4 persen. Dan disaat dibuatnya pesta rakyat Malang Kembali, orang mulai bertanya. Malang Kembali seperti apakah yang coba disuguhkan kepada khalayak ramai. Apakah wayang-wayang kulit yang ternyata justru didatangkan dari Solo dan Wonogiri (seperti Pak Sogi dan Pak Sabar yang membawa wayang buatannya hingga sebanyak lima kodi di sudut Jalan Ijen). Boleh jadi Malang Kembali tanpa sadar merupakan salah satu bentuk perwujudan ekspresi kekhawatiran dan kerinduan warga Malang akan seni dan tradisi. Seni dan tradisi yang mulai luntur seiring perkembangan zaman. Warga Malang mulai risau. Jika semakin lama identitasnya tergerus zaman, semakin lama yang ditakutkan adalah generasi yang selanjutnya tidak mengetahui budayanya sendiri.
Selain dengan cara mewariskan karakter, tarian Topeng pada masyarakat sekitar serta membuat sanggar seni. Kabupaten Malang juga telah menyisipkan kebudayaan Malang ini sebagai salah satu kurikulum sekolah, terutama tingkat Menengah Pertama dan Menengah Umum. Bahkan di beberapa universitas seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Merdeka juga memiliki jurusan seni tari dan salah satu kurikulumnya membahas tentang Tari Topeng Malangan. Dan Topeng Malangan sendiri juga tetap menjadi salah satu tujuan warga asing untuk menambah koleksi topeng mereka, seperti halnya Turis dari Belanda yang beberapa waktu yang lalu bertandah ke rumah Mbah Karimun untuk membeli salah satu koleksi topeng beliau.
Dunia maya yang semakin membanjir sebenarnya merupakan media yang sangat menguntungkan jika bisa digunakan secara maksimala. Karena media ini menjadi salah satu media pengenalan dan pemasaran Topeng Malangan. Dengan memasuki situs-situs tertentu yang tantunya berhubungan dengan kesenian khas Malang ini, maka kita dapat mengetahui bagaimanakah budaya Topeng Malangan baik masyarakat nasional bahkan internasional. Dan dari sanalah beberapa orang mengharapkan kebudayaan Topeng Malangan dapat tetap terjaga kelestariannya demi anak cucu kita kelak.
Sumber:http://aniesaround.blogspot.com/2009/05/pelestarian-kebudayaan-topeng-malangan.html

SEJARAH TOPENG MALANGAN

Wayang Topeng Malangan merupakan tradisi budaya dan religiusitas masyarakat Jawa semenjak Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana semasa abad ke 8 M. Ini bisa penulis tafsirkan tentang fungsi Candi Badut (arti badut = tontonan) ini menunjukan bahwa saat itu candi berfungsi untuk tontonan “pendidikan yang disampaikan oleh Petinggi / Raja”. Sedangkan Raja Gajayana ini juga mahir menarikan tarian Topeng. Coba anda cermati dari bentuk bangunan candi.
Di Buku Henri Supriyanto, dituliskan Wayang Topeng Malangan mengikuti pola berfikir India, karena sastra yang dominan adalah sastra India. Jadi cerita Dewata, cerita pertapaan, kesaktian, kahyangan, lalu kematian itu menjadi muksa. Sehingga sebutan-sebutannya menjadi Bhatara Agung. Jadi itu peninggalan leluhur kita, sewaktu leluhur kita masih menganut agama Hindu Jawa, yang orientasinya masih India murni. Termasuk wayang topeng juga mengambil cerita cerita dari India, seperti kisah kisah Mahabarata dan Ramayana
Dari keterangan diatas bisa diperkuat oleh Almarhum Karimun Bahwa “Kesenian Topeng tidak diperuntukkan acara acara kesenian seperti sekarang ini. Topeng waktu itu yang terbuat dari batu adalah bagian dari acara persembahyangan. Barulah pada masa Raja Erlangga, topeng dikontruksi menjadi kesenian tari. Topeng digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari. Sebab waktu itu sulit untuk mendapatkan riasan (make up), untuk mempermudah riasan, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya”
Saat kekuasaan Kertanegara di Singasari, wayang topeng ceritanya digantikan dengan cerita cerita Panji. Hal ini dapat dipahami ketika Kertanagera waktu itu menginginkan Singasari menjadi kekuasaan yang sangat besar ditanah Jawa. Panji yang didalamnya mengisahkan kepahlawanan dan kebesaran kesatria kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri.
Cerita Panji dimunculkan sebagai identitas kebesaran raja raja yang pernah berkuasa ditanah Jawa. Cerita cerita Panji yang direkonstruksi oleh Singasari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang.
Wayang Topeng ini dipakai media komunikasi antara kawulo dan gusti, antara raja dan rakyatnya. Kemampuan untuk menyerap segala sesuatunya dan membumikan dalam nilai kejawaan juga banyak terjadi tatkala Islam dan Jawa mulai bergumul dalam konteks wayang topeng.
Pada saat agama Islam masuk Jawa untuk merebut hati orang Jawa. Proses Islamisasi wayang topeng oleh para wali dengan menampilkan kisah marmoyo sunat adalah sederet cerita bagaimana Islam memproduksi nilai didalamnya. Cerita menak adalah sebagai tanda masuknya Islam ditanah Jawa. Oleh karena itu cerita menakjinggo yang selama ini dominan berkembang adalah cerita menak yang dikonstruk oleh keraton Mataram yang notabene Islam.
Topeng Malang Selatan
Sulitnya keraton keraton Islam menaklukkan brang wetan yang didalamnya termasuk bekas keraton Singosari, mengakibatkan wayang topeng cerita menak kurang mendapatkan respon diwilayah ini. Hal lain yang mendorong wayang topeng cerita panji benar benar mendarah daging diwilayah brang wetan dikarenakan kebijakan mengembangkan wayang topeng yang ditanam kuat oleh Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama. Topeng oleh Raden Wijaya dipergunakan sebagai media rekonsiliasi antara Kediri, Singosari dan Majapahit, Dalam merebut kuasa digunakan sebagai pengaruh dominan untuk tegaknya identitas politik.
Pada masa kolonial, daerah daerah perkebunan oleh mandor mandor belanda didirikan kembali kelompok kelompok topeng. Kenapa? Sebab daerah perkebunan adalah daerah daerah yang tingkat ekonominya sangat rendah dan kurang hiburan dan mudah dipengaruhi.
Perkembangan Topeng Malangan hanya menampilkan cerita cerita Panji sebagai relasi historis dengan sejarah Malang sendiri yang panjang, dan puncak perkembangan topeng mulai berkembang lagi saat pelarian pasukan Mataram Diponegoro, yang banyak bersembunyi di Malang Selatan yaitu daerah Panjen (Kepanjen) dan sekitarnya.
Para pelarian diponegoro menggunakan tari topeng digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan jati dirinya salam mendidik rakyat kecil dengan tujuan membangkitkan jiwa kemerdekaan dari ketidak adilan penguasa.
Dari cerita diatas bisa kita lihat secara jelas adanya pengrajin-pengrajin yang masih meproduksi, berada didaerah, misalnya :
  1. - Pakisaji
  2. - Wonosari
  3. - Kromengan
  4. - Sengguruh / Jenggolo
  5. - Senggreng
  6. - Tumpang
Demikian sedikit data yang kebenarannya masih perlu di pertajam lagi, agar kejelasan identitas yang dari : Tari Topeng, Kerajinan Topeng Malang Selatan bisa semakin Hidup.
Diulas oleh : Agung Cahyo Wibowo

Friday, March 21, 2014

Sejarah Cerita Panji Asmorobangun


Cerita Panji ialah sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Isinya adalah mengenai kepahlawanan dan cinta yang berpusat pada dua orang tokoh utamanya, yaitu Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (atau Galuh Candrakirana). Cerita ini mempunyai banyak versi, dan telah menyebar di beberapa tempat di Nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina).
Beberapa cerita rakyat seperti Keong Mas, Ande-ande Lumut, dan Golek Kencana juga merupakan turunan dari cerita ini. Karena terdapat banyak cerita yang saling berbeda namun saling berhubungan, cerita-cerita dalam berbagai versi ini dimasukkan dalam satu kategori yang disebut "Lingkup Panji" (Panji cycle).
Cerita-cerita dalam Lingkup Panji banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan tradisional. Di Jawa, Cerita Panji digunakan dalam pertunjukan Wayang Gedog. Di Bali, yang dikenal di sana sebagai "Malat", pertunjukan Arja juga memakai lakon ini. Kisah ini juga menjadi bagian tradisi dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan meskipun kini mulai kurang dikenal oleh masyarakat. Di Thailand terdapat seni pertunjukan klasik yang disebut "Inao" (Bahasa Thai) yang berasal dari nama "Inu"/"Ino". Begitu pula di Kamboja yang mengenal lakon ini sebagai "Eynao".
Relief cerita Panji yang dapat diketahui secara pasti hanyalah terdapat pada beberapa candi saja dalam masa Majapahit. Seringkali orang menyatakan bahwa ciri utama tokoh Panji dalam penggambaran relief dan arca adalah jika ada figur pria yang digambarkan memakai topi tekes, topi mirip blangkon Jawa, tapi tanpa tonjolan di belakang kepala (lebih mirip dengan blangkon gaya Solo/Surakarta). Badan bagian atas tokoh tersebut digambarkan tidak mengenakan pakaian, sedangkan bagian bawahnya digambarkan memakai kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Pada beberapa relief atau arca ada yang digambarkan membawa keris yang diselipkan di bagian belakang pinggang, atau ada juga yang digambarkan membawa senjata seperti tanduk kerbau (sebagaimana yang dipahatkan pada Kepurbakalaan (Kep.) XII/C.Gajah Mungkur Penanggungan) (Bernet Kempers 1959:325-6).
Jika berpegangan pada tolok ukur bahwa tokoh Panji selalu digambarkan bertopi tekes, maka akan banyak tokoh Panji yang dijumpai dalam relief-relief candi jawa Timur. Karena tokoh Sidapaksa suami Sri Tanjung yang dipahatkan di Candi Surawarna, dan Jabung akan dianggap sebagai tokoh Panji. Demikian Pula tokoh Sang Satyawan yang dipahatkan pada pendopo teras II Panataran dan dua figur pria dalam relief cerita Kunjarakarna di Candi Jago akan dapat dianggap sebagai tokoh Panji.
Lalu bagaimana penggambaran relief tokoh Panji yang dikenal dalam cerita Panji? W,F. Stutterheim (1935) secara gemilang telah berhasil menjelaskan satu panel relief dari daerah Gambyok, Kediri yang nyata-nyata menggambarkan tokoh Panji beserta para pengiringnya. Pendapat Stutterheim tersebut didukung oleh para sarjana lainnya, seperti Poerbatjaraka(1968) dan Satyawati Sulaiman(1978). Penggambaran relif Panji Gambyok tersebut menurut Poerbatjaraka sesuai dengan salah satu episode kisah Panji Semirang, yaitu saat Panji bertemu dengan kekasihnya yang pertama, di dalam hutan (1968:408). Pada panil digambarkan adanya tokoh pria bertopi tekes yang sedang duduk di bagian depan kereta, tokoh itu tidak lain ialah Panji. Sementara tokoh yang duduk di hadapannya di atas tanah ialah Prasanta. Tokoh paling depan di antara empat orang yang berdiri ialah Pangeran Anom, di belakangnya ialah Brajanata, saudara Panji berlainan ibu. la digambarkan tinggi besar dengan rambutnya yang keriting tapi dibentuk seperti tekes. Dua tokoh berikutnya adalah para kudeyan yaitu Punta dan Kertala. Dalam relief digambarkan bahwa keretanya belum dilengkapi kuda, karena sesuai dengan cerita bahwa mereka baru merencanakan akan membawa Martalangu ke kota malam itu. Sementara sikap kedinginan yang ditunjukkan oleh para tokoh adalah sesuai juga dengan cerita, yaitu mereka berada di luar saat malam yang dingin (Poerbatjaraka 1968:408).
 Karakter Cerita Panji Asmorobangun
Panji Asmara Bangun
Klo di tokoh wayang jawa pada umumnya yag menjadi tokoh sentralato pahlawan adalah Gatot Kaca....nah klo di topeng Malang-an tokoh super hero-nya adalah Prabu Asmara Bangun. Cerita topeng Wayang-an kebanyakan adalah tokoh kepahlawanan ato panji...yang ni salah satu panji yang ada...jadi masih banyak panjipanji yang laen...
Sifat Panji Asmara Bangun sendiri adalah bijaksana, baik, suka menolong, jujur, ikhlas, hebat...hehehe...mantap dech yang nie...oiya...Prabu Asmara Bangun juga merupakan suami dari Dewi Sekar Taji yang terkenal cantik...
 Bapang


Yang ketiga adalah Bapang....salah satu tokoh jahat yang suka mengganggu Prabu Asmara Bangun...Bapang adalah teman dari Kelono Sewandono tokoh jahat juga....tapi Bapang adalah tokoh jahat yang berkarakter lucu...dia juga tukang tipu dan hasut...makanya dilambagkan berhidung panjang seperti pinokio




dewi sekartaji

Suit...suit...yang ni sangat cantik, molek, komes.....tokoh perempuan yang melambangkan keindahan wanita ada pada Dewi Sekartaji...Dewi Sekartaji memiliki sifat yang baik, cerdas, suci, lugu hmmm....sip dech yang ni...jadi cocok lah menjadi istri Panji Asmara Bangun.